Ayah, Aku Rindu

Standar

Lagi-lagi aku rindu sosoknya, dia yang begitu aku cintai, panutan untuk diriku, dialah yang selalu aku banggakan di depan orang-orang. Kapan dia bisa hadir lagi untukku? Sekedar untuk mendengar curahan hatiku tentang hari-hariku yang terkadang berat untuk kulalui namun juga sayang untuk kulewati.

“haaaah….kangen dia nih”, keluhku. “dia pasti udah bahagia, kamu doain yang terbaik aja ya buat dia”, seseorang disampingku mencoba menghiburku. Jika aku rindu, aku bingung harus bercerita pada siapa. Ibu? Tidaklah mungkin aku bercerita hal ini padanya, ia pasti akan bersedih lagi. Hingga hadirlah suci dalam hidupku yang selalu mendengar ceritaku tentang dia. Pernah aku menjerit dalam hati, tak terima atas takdir yang diberikan tuhan. Tuhan, mengapa aku terpilih untuk kehilangannya disaat aku sedang belajar banyak hal dari dirinya? Dia terlalu baik untuk pergi secepat ini.

“oh jagoan Ayah lagi jatuh cinta ya?”, ledeknya saat aku bertanya bagaimana merebut perhatian wanita. “kamu tatap matanya Nak, berikan senyum terbaik milikmu. Dijamin deh cara ini bakal ngebuat kesan pertamanya terhadapmu istimewa. Dia pasti gak bisa tidur semalaman mikirin kamu Nak”, begitulah saran ayah. “ah yang benar nih Yah?”, tanyaku. “hahaha coba saja kamu lakukan”. “ah si Ayah, anaknya lagi serius juga”. “hahaha”, dia kembali tertawa. Cara yang Ayah berikan itulah yang membawa Suci menjadi milikku sampai saat ini. Apakah dia bahagia sekarang melihat putranya ini berhasil dicintai oleh cinta pertamanya?

Aku adalah anak lelaki tunggal dikeluargaku yang tak tahu apa-apa, namun berkat adanya Ayah aku menjadi tahu banyak hal. Dia yang mengajariku bagaimana cara menggowes sepeda, dia yang mengobati luka dilututku saatku terjatuh dari sepeda. Dia yang membujukku agar berani khitanan “Nak, malu tuh teman-teman kamu udah dikhitan. Masa kamu belum? Nanti cewek-cewek gak ada yang mau sama kamu lho…lagian dikhitan enak Nak, nanti kamu dapat banyak uang”, berkat bujukkan Ayah itulauh akhirnya aku mau dikhitan.

Berbeda dengan Ayah lainnya, hobinya adalah memasak. Tak heran jika masakkan Ayah lebih enak dari Ibu. Masakkannya yang menjadi favoritku adalah Tumis Kangkung. Meskipun terlihat sederhana, tapi kalau sudah Ayah yang masak benar-benar jadi istimewa. Sekarang aku jadi terlatih memasak berkatnya.

Hari itu, di kantor Ayah sedang ada acara. Ayah pulang lebih cepat dariku. “loh kok Ayah udah pulang?” tanyaku. “iya Nak, di kantor ada acara jadi Ayah pulang cepat” jawab Ayah pelan. “antarkan Ayah dulu yuk Nak sebentar ke toko matrial deket sawangan situ, liat tuh Nak cat di tembok udah tidak bagus dilihat. Malu kalo ada tamu datang” pintanya setelah aku ganti baju seragamku. “duh…aku capek banget Yah tadi di sekolah ada praktek, aku mau leha-leha dulu. Nanti aja ya Yah pas ngecat aku bantuin deh” aku menolak permintaannya. “yaudah Nak, kamu istirahat aja, biar Ayah yang beli sendiri”. Ia keluar rumah tanpa ada rasa kecewa sedikitpun.

Sungguh, jika aku diberikan satu permintaan aku akan meminta diulanganya hari itu. Aku menyesal Yah memebiarkanmu sendiri saat itu. Aku menyesal tidak melindungimu saat itu. Aku menolak permintaan terakhirmu Yah.

“Doni, lo udah tiga hari gak masuk sekolah. Lo harus ikhlas Don, Ayah lo udah bahagia di Surga. Dia pasti sedih kalo lihat elo kaya gini” bujuk salah satu temanku agar aku mau masuk sekolah. “iya”, hanya itu yang keluar dari mulutku.

Kalian tahu apa tentang semua ini? Kalian tak pernah merasakan apa yang aku rasakan, karna aku yang  terlebih dahulu ditinggal oleh sosok Ayah. Kalian seenaknya berbicara ini itu tanpa tahu seperti apa rasanya. Jiwaku ini mati, hampa, tak ada rasa. Air mata yang jatuh pun benar-benar percuma. Tak akan membawa Ayah kembali dalam hidupku. Aku tidak butuh kalian, aku ingin sendiri mengenang apa yang pernah aku lakukan bersamanya. Kalian tak perlu cemas denganku, aku hidup hanya saja jiwaku mati.

Saat itu aku terpuruk, jatuh! Ibu yang selalu menemaniku pun, aku abaikan. Ucapannya tak pernah aku dengarkan. Aku hanya mengangguk ketika ia bicara. Aku butuh Ayah, aku lelah seperti ini. Hanya kekecewaan yang aku dapati saat aku berharap Ayah datang kembali. Aku rindu tawa, canda, dan omelan kecilnya. Di mana lagi aku dapati suara itu?

Aku iri ketika temanku diantar ataupun dijemput Ayahnya. Aku ingin seperti mereka, yang pada saat pengambilan Rapor Ayahnya yang mendampingi. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka lagi? Lagi-lagi aku harus merasakan rindu teramat sangat ketika teman-teman-temanku bercerita tentang Ayah mereka. Tentang Ayahnya yang baru saja naik pangkat, Ayahnya yang baru saja membelikan Handphone baru untuknya. Apa mereka tak sadar bagaimana perasaanku saat mereka berceloteh tentang itu? Hah, hanya dirikulah yang harus mengerti perasaanku sendiri, menetralisir segala macam pikiran dalam diri.

Hari ini tepat setahun kepergian Ayah, aku sudah benar-benar ikhlas. Aku yakin Tuhan punya rencana indah untukku dan untuknya. Terimakasih Tuhan, engkau telah mengajarkan banyak hal setelah kepergian Ayah. Kekecewaan saat kepergian Ayah, kini telah berbuah manis. Tuhan, kumohon jagalah iya selalu di sisimu, peluklah dia, berikanlah dia tempat terindah di surgamu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s