Review II: 1.Memotong Jalur Distribusi

Standar

REVIEW

MENINGKATKAN TARAF HIDUP  PETANI MELALUI PEMBERDAYAAN KUD

Oleh:

Wardoyo1

Hendro Prabowo2

Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil), VOL. 2, 21-22 Agustus 2007

1.Memotong Jalur Distribusi

Koperasi Unit Desa (KUD) yang diharapkan bisa menyelamatkan petani, dengan jalan menebas (memborong ) gabah petani, belum juga bergerak. Kalaupun ada sejumlah KUD yang telah membeli gabah, itu pun bukan untuk diproses menjadi beras, melainkan digunakan untuk bibit. Setiap kali panen tiba, KUD selalu terlambat membeli gabah petani. Kenapa tidak mampu membeli dengan modal sendiri, padahal KUD sudah 10 tahun lebih menangani pengadaan pangan.

Memotong jalur distribusi beras

Rantai penjualan gabah dari petani hingga ke gudang Dolog terlihat bahwa HPP tidak dinikmati petani. Yang menikmati keuntungan lebih besar justru adalah para kontraktor karena mereka bisa menekan harga dari petani dengan alasan kualitas. Sementara itu, kontraktor sendiri sudah mendapat pasar dan harga penjualan yang jelas, yaitu melalui Dolog setempat. Dari pengamatan di lapangan, rantai penjualan gabah bisa mencapai lima titik, mulai dari petani, tengkulak, pemasok, kontraktor atau pemilik penggilingan padi, hingga gudang Dolog.

b

Pada rantai yang panjang gambar 1, KUD masuk dalam kategori Kontraktor, itupun peran KUD hanya kecil sekali. Dari salah satu KUD di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dimana KUD tersebut memiliki mesin penggilingan lengkap beras yang bisa disalurkan ke pasar hanya 15 ton setahun. Ini sungguh menyimpan suatu pertanyaan besar. Ada contoh pembanding bukan penggilingan tapi pengecer sembako dimana toko tersebut mampu menjual rata-rata 1,5 ton per hari. Kerja KUD setahun hanya setara dengan 10 hari kerja warung sembako? Mengapa saya membandingkan dengan warung sembako? Jawabnya adalah ketika dibandingkan dengan penggilingan padi swasta jelas jauh beda volume penjualannya.

Yang termasuk dalam kontraktor disini selain KUD adalah para pengusaha penggilingan padi. Peran pengusaha penggilingan pada justru sangat dominan dibandingkan KUD. Disamping itu mereka lebih senang memasok beras ke pasar daripada ke gudang dolog karena banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi.

Rantai yang panjang itu harus dipotong agar petani bisa menikmati HPP yang lebih pantas. Peran koperasi unit desa (KUD) harus dikembalikan. Dulu KUD didirikan salah satunya untuk memperpendek rantai penjualan hasil pertanian. Kini saatnya KUD berperan memotong rantai itu. Paling tidak bisa memutus hingga dua titik, menjadi petani, KUD, dan gudang Dolog. KUD diharapkan lebih aktif menjadi perantara bagi penjualan hasil pertanian untuk meningkatkan taraf hidup petani yang menjadi anggotanya dan juga masyarakat sekitarnya.

b

Memotong jalur distribusi pupuk

Bukan hanya distribusi gabah saja yang harus dipotong KUD namun juga distribusi pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya. Tugas KUD dan pemerintah untuk membuat rantai distribusi sarana produksi pertanian menjadi pendek.

Rantai distribusi pupuk yang ditemui di lapangan seperti pada gambar 3 dibawah. Kalau ditelusuri lebih jauh peran KUD dalam penyaluran pupuk ke petani sangat kecil. Data ini diperoleh dari laporan pertanggungjawaban pengurus salah satu KUD di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dengan anggota aktif 6350 orang pupuk yang bisa disalurkan hanya 22 ton dengan nominal pendapatan Rp. 440.000.

Mari kita berandai-andai sejenak. Kita asumsikan dari 6350 anggota yang aktif sebagai petani 3000 orang. Seandanyai tiap petani membutuhkan 2 kuintal pupuk untuk sekali masa tanam, maka pupuk yang bisa disalurkan sebanyak 600 ton. Untuk daerah ini kondisinya adalah ada aliran irigasi teknis dimana rata-rata setahun bisa 3 kali panen. Selanjutnya kita asumsikan 50% dari petani yang bisa panen 2 kali, maka tambahan pupuk sebesar 300 ton.

Apabila 25% dari petani tersebut bisa panen 3 kali maka tambahan yang disalurkan sebesar 150 ton. Bila dijumlahkan maka dalam setahun semestinya KUD tersebut bisa menyalurkan pupuk ke petani sebanyak 1.050 ton. Dengan tingkat keuntungan Rp. 20.000, per ton maka keuntungan total dari pupuk Rp. 21.000.000.

Melalui kerjasama dengan perbankan dan gudang PUSRI atau yang lainnya serta campur tangan pemerintah (PEMDA) semestinya jalur distribusi pupuk diatas dapat diperpendek. Dengan demikian jalur distribusinya menjadi Gudang Pupuk, KUD, dan petani seperti pada gambar 4. Alasan yang kurang masuk akal ketika KUD menyatakan bahwa persaingan semakin ketat. Dengan gambar 4 maka jalur distribusi menjadi lebih pendek secara otomatis daya saing KUD menjadi baik.

b

Nama / NPM   : Yunika Kumalasari / 27211672
Kelas / Tahun  : 2EB09 / 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s